Syahdan di suatu tempat, tampak Hamzah sedang berlinangan air mata saat berkeluh kesah kepada Tuhannya. Ia begitu sedih dengan keadaan dirinya, terutama dengan masalah cinta yang masih ada dalam hatinya. Cinta yang telah lama teranam hingga ke akarnya begitu dalam menghujam. Cinta yang senantiasa melontarkannya ke masa lalu di saat ia kali pertama bertemu dengan akhwat yang mengguncang hatinya.
“Dengan menyebut namaMu ya Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Segalaa puji yang tiada batas hanyalah milikMu, Tuhan Yang Maha Suci. Dengan keagungan NamaMu, dengan kemuliaan Zat-Mu, dengan Kekuasaan-Mu atas segala kehendak, dan dengan kehendakMu atas segala kekuasaan.
Duhai Tuhan yang Menguasai hati kami, aku kembali menghadapmu utnuk mengadu tentang hatiku. Hati yang senantiasa menangis dan menangis setiap malam di kala orang-orangtelah terlelap dalam buaian. Hati yang senantiasa mengemis dan mengemis setiap waktu mengharap ridha dan rahmatMu. Hati yang selalu merasa risau jika cintaku padaMu terganggu dengan cinta lain yang selama ini bersemayam dalam hatiku”.
“Assalamu’alaikum!” salam Bujang di pintu rumah Hamzah
“Wa’alaikumsalam warrohmatullahi wabarokatuh”jawab Hamzah sambil ikut bangkit dari duduk silanya lalu menuju pintu.
“Kau rupanya, silakan!”ujar Hamzah yang sudah membuka pintu.
Bujang masuk ke kediaman Hamzah yang sanagt sederhana, lalu duduk di lantai kayu. Ia tertegun sejenak melihat
kediaman sahabatnya itu. Beberapa saat kemudian ada beberapa butir airmatanya mengalir di pipinya.
“aku heran dengan rumahmu Hamzah, mengapa setiap kali aku mengunjunginya tiba-tiba saja air mataku mengalir?
Tanya bujang dengan suara tertahan.”
“Air matamu saja yang sangat sensitif, Bujang..hehe”
“Entahlah yang jelas setiap datang ke rumah ini aku merasakan kedukaan yang bisa membuatku hatiku bersedih”
“Apalagi yang kau sedihkan Bujang? Ibu yang kau cintai masih ada. Wanita yang kau cintai beberapa tahun lamanya, kini telah menjadi istrimu”
“Untuk semua itu aku bersukur kepada Allah. Tetapi kesedihan yang ada di rumahmu ini adalah kesedihan yang dulu aku pernah akrab dengan hatiku. Kesedihan dari hati yang merindukan seseorang yang sangat dicintainya.”
Hamzah terdiam. Ia sudah mengira kalau Bujang akan dapat merasakan kesedihan di hatinya. Pasalnya, dulu bujang juga pernah mengalaminya.
“Mengapa kau masih bisa merasakan kesedihan ini, Bujang? Bukankah kau sekarang dalam keadaan bahagia dengan ikatan pernikahan antara kau dan Siti Nurhaliza? Apa lagi yang kau khawatirkan?” tanya hamzah heran.
“Cerai” jawab Bujang
“Bujang, Bujang. Kau ini seperti orang yang baru makan lalu muntah saja.”
“Muntah? Apa maksudmu, Hamzah?”
“Bujang apa kau pernah memakan makanan yang sangat enak?” tanya Hamzah tiba-tiba.
“Aku ingat-ingat dulu. Oh ya, pernah. Nasi Kebuli”ujar Bujang ceria.
“Ketika kau berhadapan dengan nasi kebuli itu apa kau yakin bahwa nasi kebuli itu adalah rezekimu?”
“Ya.”
“Ketika kau makan apakah kau makin yakin bahwa nasi kebuli yang kau masukkan ke dalam mulutmu adalah rezekimu?”
“Tentu saja.”
“ketika kau selesai makan apakah kau sudah sangat yakin bahwa nasi yang ada di perutmu itu adalah rezekimu?”
“Pasti itu.”
“Bagaimana kalau kau mual lalu kau memuntahkan nasi kebuli yang sudah bersanding dengan isi perutmu itu?”
“Berarti hanya sebatas itu rezekiku, Hamzah”
“Bujang kau harus bisa membedakan mana rizki untuk matamu, mana rizki untuk mulutmu dan mana rizki untuk perutmu”
ingat Hamzah.
“Apa maksudmu?”
“Maksudku, rezeki untuk mata belum tentu akan menjadi rezeki untuk mulutmu. Rezeki untuk mulutmu belum tentu akan menjadi rezeki untuk perutmu.rezeki untuk perutmu pun juga belum tentu menjadi rezeki pertumbuhan tubuhmu. Hanya rezeki yang berkah saja yang baik dan bermanfaat bagi kita”, papar Hamzah.
“Hamzah, ketika kau bertemu dengan wanita yang kau cintai, apa kau yakin dia adalah jodohmu?” tanya Bujang.
“Tentu saja”
“Ketika wanita itu menerima cintamu, apa kau makin yankin bahwa dia dalah jodohmu?”
“Sudah pasti”
“Ketika kau memperistrinya, apa kau sudah sangat yakin bahwa dia adalah jodohmu?”
“Sudah jelas kan”
“bagaimana jika hanya dalam hitungan bulan lalu terjadi perceraian?”
“ya.. berarti hanya sebatas itu jodohku,” ujar Hamzah
"Hamzah kau harus bisa membedakan mana jjodoh untuk matamu,mana jodoh untuk hatimu, dan mana jodoh untuk jiwamu,” terang Bujang
“Apa maksudmu?”
“Maksudku, jodoh untuk mata belum tentu akan menjadi jodoh utnuk hatimu. Jodoh untuk hatimu belum tentu akan menjadi jodoh untuk jiwamu. Jodoh untuk jiwamu pun belum tentu akan mendatangkan kebahagiaan untukmu. Hanya jodoh yang berkah yang dapat mendatangkan kebahagiaan”, papar Bujang.
“Aku paham maksudmu. Kita harus bisa membedakan mana wanita yang kita cintai, mana wanita ynag menjadi istri kita, mana wanita yang menjadi jodoh kita. Wanita yang kita cintai belum tentu menjadi menjadi istri kita. Wanita yang menjadi istri kita belum tentu akan menjadi jodoh kita. Bahkan wanita yang menjadi jodoh kita belum tentu adalah wanita yan g sangat kita cintai” ujar Hamzah pelan kaerna menahan kesedihan yang datang tiba-tiba.
Lalu Bujang dan Hamzah terdiam lalu menghembuskan napas pelan-pelan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar