Rabu, 04 April 2012

"Dibalik Hati Seorang Ayah"



Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya.....
Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.
Lalu bagaimana dengan Ayah?
Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,
tapi tahukah kamu, jika ternyata Ayah-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng,
tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Ayah bekerja dan dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Surt Cinta Untuk "Yang Tersayang"




Bismillah ...
Assalamu’alaykum ...
Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku
Tak terasa empat tahun aku memendam rasa itu, rasa yang ingin segera kuselesaikan tanpa harus mengorbankan perasaanku atau dirimu. Seperti yang engkau tahu, aku selalu berusaha menjauh darimu, aku selalu berusaha tidak acuh padamu. Saat di depanmu, aku ingin tetap berlaku dengan normal walau perlu usaha untuk mencapainya.

Tahukah engkau wahai yang mampu melumpuhkan hatiku? Entah mengapa aku dengan mudah berkata “cinta” kepada mereka yang tak kucintai. Namun kepadamu, lisan ini seolah terkunci. Dan aku merasa beruntung untuk tidak pernah berkata bahwa aku mencintaimu, walau aku teramat sakit saat mengetahui bahwa aku bukanlah mereka yang engkau cintai walaupun itu hanya sebagian dari prasangkaku. Jika boleh aku beralasan, mungkin aku cuma takut engkau akan menjadi “illah” bagiku, karena itu aku mencoba untuk mengurung rasa itu jauh ke dalam, mendorong lagi, dan lagi hingga yang terjadi adalah tolakan-tolakan dan lonjakan yang membuatku semakin tidak mengerti.

Sakit hatiku memang saat prasangkaku berbicara bahwa engkau mencintai dia dan tak ada aku dalam kamus cintamu, sakit memang, sakit terasa dan begitu amat perih. Namun 1000 kali rasa itu lebih baik saat aku mengerti bahwa senyummu adalah sesuatu yang berarti bagiku. Ketentramanmu adalah buah cinta yang amat teramat mendekap hatiku, dan aku mengerti bahwa aku harus mengalah.

Cerpen Hikmah - Muntah


Syahdan di suatu tempat, tampak Hamzah  sedang berlinangan air mata saat berkeluh kesah kepada Tuhannya. Ia begitu sedih dengan keadaan dirinya, terutama dengan masalah cinta yang masih ada dalam hatinya. Cinta yang telah lama teranam hingga ke akarnya begitu dalam menghujam. Cinta yang senantiasa melontarkannya ke masa lalu di saat ia kali pertama bertemu dengan akhwat yang mengguncang hatinya.

“Dengan menyebut namaMu ya Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Segalaa puji yang tiada batas hanyalah milikMu, Tuhan Yang Maha Suci. Dengan keagungan NamaMu, dengan kemuliaan Zat-Mu, dengan Kekuasaan-Mu atas segala kehendak, dan dengan kehendakMu atas segala kekuasaan.
Duhai Tuhan yang Menguasai hati kami, aku kembali menghadapmu utnuk mengadu tentang hatiku. Hati yang senantiasa menangis dan menangis setiap malam di kala orang-orangtelah terlelap dalam buaian. Hati yang senantiasa mengemis dan mengemis setiap waktu mengharap ridha dan rahmatMu. Hati yang selalu merasa risau jika cintaku padaMu terganggu dengan cinta lain yang selama ini bersemayam dalam hatiku”.