Sabtu, 27 Oktober 2012

Implementasi Sifat-sifat Nabi Muhammad Dalam Bisnis


Nabi Muhammad adalah seorang utusan Allah yang menjadi rahmatan lil’alamin, maka pada diri beliau terdapat sifat-sifat yang bisa menjadi suri tauladan bagi seluruh umat manusia. Allah telah jelas menyebutkan keabikan sifat nabi muhammad ini dalam Al-Qur’an:
ô‰s)©9 tb%x. öNä3s9 ’Îû ÉAqß™u‘ «!$# îouqó™é& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöqu‹ø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”(Q.S. Al-Ahzab:21)
Beliau adalah sosok ideal sebagai manusia yang menjalankan tugasnya sebagai khalifatullah di muka bumi ini. Sifat-sifat yang kita kenal selama ini yaitu sidiq yang berarti jujur, amanah yang berarti dapat dipercaya, fathonah yang berarti cerdas, dan tabligh yang berarti menyampaikan. Disamping itu ada sifat yang menjadi kunci kesuksesan beliau dalam berdakwah, yaitu istiqomah. Istiqomah berarti keajegan dalam berusaha, atau dengan kata lain kontinuitas dalam menjalankan sesuatu.  Berkaitan dengan sifat-sifat terpuji Nabi Muhammad dalam kehiudpan sehari-hari, beliau menerapkannya dalam setiap sisi kehidupan, dalam pergaulan dengan kaum muslimin dan sahabat maupun dengan orang-orang kafir. Dalam berdagang maupun dalam berdakwah sifat-sifat tersebut melekat erat dan tercermin dalam sikap beliau.

Minggu, 27 Mei 2012

Kisah keledai



Suatu hari keledai tua milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis memilukan selama berjam-jam, sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur itu juga perlu di timbun (ditutup) karena berbahaya; jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Maka ia mengajak tetangganya untuk datang membantu. Mereka membawa sekop, dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.

Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam…

Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang dengan apa yang dilihatnya.

Walaupun punggungnya ditimpa oleh berpuluh-puluh sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang- guncang kan badannya agar tanah yang menimpa punggung nya turun ke bawah, lalu ia menaiki tanah itu.

Sementara tetangga si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga mengguncang kan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri!

Teman, seperti cerita keledai di atas, kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepada kita. Cara untuk keluar dari ’sumur’ (kesedihan, masalah, dsb) adalah dengan mengguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran dan hati kita) dan melangkah naik dari ’sumur’ dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.

Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari ’sumur’ yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pantang menyerah!

Ingatlah aturan sederhana tentang kebahagiaan :

  • Bebaskan diri kita dari segala kebencian.
  • Bebaskan pikiran kita dari segala kecemasan.
  • Hiduplah sederhana.
  • Memberilah lebih banyak.
  • Berharaplah lebih sedikit.
  • Tersenyumlah.

Rabu, 04 April 2012

"Dibalik Hati Seorang Ayah"



Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya.....
Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.
Lalu bagaimana dengan Ayah?
Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,
tapi tahukah kamu, jika ternyata Ayah-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng,
tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Ayah bekerja dan dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Surt Cinta Untuk "Yang Tersayang"




Bismillah ...
Assalamu’alaykum ...
Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku
Tak terasa empat tahun aku memendam rasa itu, rasa yang ingin segera kuselesaikan tanpa harus mengorbankan perasaanku atau dirimu. Seperti yang engkau tahu, aku selalu berusaha menjauh darimu, aku selalu berusaha tidak acuh padamu. Saat di depanmu, aku ingin tetap berlaku dengan normal walau perlu usaha untuk mencapainya.

Tahukah engkau wahai yang mampu melumpuhkan hatiku? Entah mengapa aku dengan mudah berkata “cinta” kepada mereka yang tak kucintai. Namun kepadamu, lisan ini seolah terkunci. Dan aku merasa beruntung untuk tidak pernah berkata bahwa aku mencintaimu, walau aku teramat sakit saat mengetahui bahwa aku bukanlah mereka yang engkau cintai walaupun itu hanya sebagian dari prasangkaku. Jika boleh aku beralasan, mungkin aku cuma takut engkau akan menjadi “illah” bagiku, karena itu aku mencoba untuk mengurung rasa itu jauh ke dalam, mendorong lagi, dan lagi hingga yang terjadi adalah tolakan-tolakan dan lonjakan yang membuatku semakin tidak mengerti.

Sakit hatiku memang saat prasangkaku berbicara bahwa engkau mencintai dia dan tak ada aku dalam kamus cintamu, sakit memang, sakit terasa dan begitu amat perih. Namun 1000 kali rasa itu lebih baik saat aku mengerti bahwa senyummu adalah sesuatu yang berarti bagiku. Ketentramanmu adalah buah cinta yang amat teramat mendekap hatiku, dan aku mengerti bahwa aku harus mengalah.

Cerpen Hikmah - Muntah


Syahdan di suatu tempat, tampak Hamzah  sedang berlinangan air mata saat berkeluh kesah kepada Tuhannya. Ia begitu sedih dengan keadaan dirinya, terutama dengan masalah cinta yang masih ada dalam hatinya. Cinta yang telah lama teranam hingga ke akarnya begitu dalam menghujam. Cinta yang senantiasa melontarkannya ke masa lalu di saat ia kali pertama bertemu dengan akhwat yang mengguncang hatinya.

“Dengan menyebut namaMu ya Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Segalaa puji yang tiada batas hanyalah milikMu, Tuhan Yang Maha Suci. Dengan keagungan NamaMu, dengan kemuliaan Zat-Mu, dengan Kekuasaan-Mu atas segala kehendak, dan dengan kehendakMu atas segala kekuasaan.
Duhai Tuhan yang Menguasai hati kami, aku kembali menghadapmu utnuk mengadu tentang hatiku. Hati yang senantiasa menangis dan menangis setiap malam di kala orang-orangtelah terlelap dalam buaian. Hati yang senantiasa mengemis dan mengemis setiap waktu mengharap ridha dan rahmatMu. Hati yang selalu merasa risau jika cintaku padaMu terganggu dengan cinta lain yang selama ini bersemayam dalam hatiku”.